Ketegangan di Teluk Persia bukan lagi sekadar berita luar negeri yang jauh di mata, tapi sudah jadi urusan “dapur” yang dekat di kantong. Saat Iran mulai saling gertak di Selat Hormuz, jantung kita di Indonesia ikut berdegup kencang. Bagaimana tidak? Selat itu adalah “keran” utama yang menyumbat atau mengalirkan nadi energi dunia. Kalau kerannya mampet, harga minyak mentah bakal terbang lebih tinggi dari layang-layang, dan efeknya langsung mendarat di depan pompa bensin kita.
Menyikapi kegentingan ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia tetap tampil dengan kepercayaan diri level dewa. Dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, ia mencoba menenangkan publik soal stok BBM nasional yang kabarnya hanya cukup untuk 21 hari. Bahlil dengan santai menganalogikannya seperti tandon air di rumah. “Kita ini punya stok 21 hari itu jangan dipikir 21 hari habis terus kiamat,” katanya sambil berkelakar. “Ibarat toren air di atas rumah, dipakai mandi ya berkurang, tapi kan pompanya nyala terus buat ngisi. Jadi tenang saja, mesin pompanya masih jalan, jangan sampai bapak-ibu yang stres duluan sebelum bensinnya habis!”
Bahlil juga tak lupa menyelipkan “jimat” andalannya: Hilirisasi. Baginya, gejolak harga minyak akibat perang Iran adalah bukti sahih bahwa kita tidak boleh terus-menerus jadi penonton. “Makanya, kita ini jangan mau disuruh ekspor mentah terus! Kalau kita punya kilang sendiri, punya hilirisasi yang kuat, mau ada rudal terbang di Iran atau petir di Amerika, kita punya daya tahan,” cetusnya dengan nada tinggi yang khas. Ia seolah ingin menegaskan bahwa investor yang datang ke Indonesia jangan cuma mau ambil barang mentah, tapi harus mau membangun ketahanan energi di sini. “Investor itu kalau datang ke saya, saya tanya dulu: kamu mau bangun pabriknya di sini tidak? Kalau cuma mau ambil minyak atau gas terus dibawa lari, mending pulang saja tidur!” imbuhnya sembari tertawa renyah.
Namun, di balik guyonan “toren air” dan semangat “hilirisasi” itu, realitanya tetaplah keras. Perang Iran adalah ancaman nyata bagi kedaulatan fiskal. Sebagai negara net importer, kenaikan harga minyak dunia adalah racun bagi anggaran. Kita berada di posisi dilematis: mempertahankan subsidi yang bikin APBN “jebol”, atau melepas harga BBM ke pasar yang bikin harga cabai ikut melambung. Bahlil sendiri sempat berseloroh bahwa menghadapi gejolak global ini, senjata paling ampuh kita adalah doa. “Kalau harga minyak naik karena perang, ya kita selain ikhtiar hilirisasi, banyak-banyak berdoa. Karena kalau sudah urusan rudal, asumsi APBN kita ini cuma bisa selamat lewat doa dan lobi-lobi di balik layar,” tambahnya.
Pada akhirnya, krisis ini mengingatkan kita bahwa kedaulatan energi tak bisa hanya disandarkan pada analogi tandon air. Selama kita masih bergantung pada fosil dari kawasan yang hobi konflik, nasib ekonomi kita akan selalu tersandera. Kita butuh lebih dari sekadar “pompa” yang menyala; kita butuh kemandirian energi yang nyata agar di masa depan, saat tensi di Selat Hormuz memuncak, kita tidak perlu lagi terlalu rajin mengecek papan harga di SPBU sambil berkomat-kamit merapal doa.
