Kalau kita jujur dan sedikit tega membedah Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, film ini sebenarnya bukan sekadar drama air mata tentang pemuda Makassar yang gagal mudik ke hati gadis Minang. Ini adalah sebuah otopsi visual terhadap kemunafikan sebuah peradaban yang merasa paling beradab, tapi justru gemar memakan anak kandungnya sendiri lewat sistem yang kaku. Kita sering terjebak memuja penderitaan Zainuddin yang puitis, padahal inti masalahnya adalah “Apartheid” kultural yang dipelihara dengan rapi atas nama menjaga kemurnian tradisi. Zainuddin itu bukan cuma ditolak karena dia miskin harta, dia ditolak karena dia adalah sebuah anomali biologis dalam sistem matrilinial yang saking ketatnya sampai kehilangan ruh kemanusiaan. Dia adalah anak sungsang dalam tatanan sosial yang menganggap darah yang bercampur adalah darah yang kotor, sebuah stigma yang membuat dia menjadi pengasing di tanah ayahnya sendiri, sebuah tamparan bagi kita semua bahwa sering kali “orang dalam” atau “darah murni” lebih sakti daripada kompetensi atau niat baik. Bayangkan betapa ngenesnya menjadi individu yang dipaksa mencintai sebuah budaya yang secara kolektif terus-menerus mengatakan, “Maaf, Anda bukan bagian dari grup WhatsApp kami,” hanya karena urusan garis keturunan yang bahkan tidak bisa ia pilih saat lahir.
​Di titik ini, Hamka lewat adaptasi layar lebarnya sedang melakukan kritik internal yang sangat radikal terhadap tanah kelahirannya. Dia mempertanyakan: untuk apa adat dijunjung setinggi langit kalau fungsinya cuma jadi tembok tebal yang memisahkan manusia dari nuraninya? Hayati adalah tumbal paling nyata dari mesin tradisi tersebut. Dia bukan sekadar perempuan yang plin-plan, tidak punya nyali untuk melawan, atau penghuni tetap zona nyaman, dia adalah representasi dari individu yang jiwanya sudah “dibunuh” pelan-pelan oleh konsensus keluarga bahkan sebelum badannya benar-benar tenggelam di perairan Masalembo. Hayati hidup dalam penjara pikiran di mana “apa kata orang” adalah tuhan yang harus disembah di atas segalanya, menjadikannya boneka yang ditarik ulur oleh benang ekspektasi sosial untuk mengangkat martabat keluarga lewat pernikahan yang terlihat “mapan” di permukaan namun busuk di dalam. Pernikahannya dengan Aziz bukan sekadar perjodohan paksa, melainkan sebuah transaksi sosial untuk menjaga martabat keluarga di tengah kepungan feodalisme.
Lalu masuklah Aziz, sosok yang sering kita benci setengah mati sebagai antagonis utama. Tapi kalau kita mau melihat lebih jeli, Aziz adalah cermin dari kegagalan modernitas semu di Nusantara pada masa itu. Dia adalah produk dari sistem pendidikan dan gaya hidup Barat yang cuma diambil kulitnya saja: pakai jas necis, hobi judi, main perempuan, dan konsumtif, tapi mentalitasnya tetap feodal dalam memandang perempuan sebagai properti yang bisa dipindahtangankan. Aziz adalah antitesis dari Zainuddin yang justru menemukan “pencerahan” lewat rasa sakit. Di saat Aziz hancur karena tidak punya fondasi karakter dan akhirnya memilih jalan pintas yang menyedihkan, Zainuddin melakukan apa yang dalam psikologi disebut sublimasi, sebuah proses hebat di mana dorongan emosional yang terhambat diubah menjadi energi kreatif yang dahsyat. Keberhasilan Zainuddin menjadi penulis besar bukan sekadar soal balas dendam ekonomi atau pamer kekayaan, tapi soal kemenangan intelektual atas sistem yang dulu membuangnya seperti sampah. Ini adalah cara balas dendam paling savage dalam sejarah: tidak perlu pakai otot, cukup pakai royalti buku dan rumah mewah untuk membuat mantan menyesal tujuh turunan.
Puncaknya, tragedi tenggelamnya kapal itu adalah sebuah vonis kosmik yang sangat brilian. Kapal Van der Wijck, yang digambarkan sebagai puncak kehebatan teknologi manusia di zaman itu, ternyata takluk dengan mudah di tangan alam. Ini adalah metafora bahwa segala tatanan buatan manusia, entah itu adat yang kolot atau modernitas yang angkuh, bakal runtuh juga kalau tidak dibangun di atas pondasi kejujuran hati. Semesta seolah tidak mengizinkan rekonsiliasi yang terlambat antara Zainuddin dan Hayati karena noda di masa lalu sudah terlalu pekat untuk dibersihkan hanya dengan air mata. Film ini menjadi pengingat keras bahwa harta dan status itu bisa hanyut kapan saja, tapi karya dan harga diri bakal tetap mengapung meski badai datang menghantam. Akhir cerita ini adalah pengingat bagi siapa saja yang masih hobi menilai orang dari suku atau isi dompet: hati-hati, jangan sampai kalian sedang sibuk membangun kapal megah yang sebenarnya hanya tinggal menunggu waktu untuk karam bersama semua kesombongan di dalamnya.
Kata-katana Rong…
​“Demikianlah perempuan, ia hanya ingat kekejaman orang kepada dirinya, walaupun kecil, dan ia lupa kekejamannya sendiri kepada orang lain, walaupun begitu besar.”
Kutipan legendaris dari Buya Hamka ini sebenarnya adalah sebuah pisau bedah psikologis yang sangat tajam untuk menelanjangi fenomena self-victimization atau kecenderungan manusia untuk selalu merasa sebagai korban paling menderita. Secara mendalam, kalimat ini menyoroti bagaimana memori emosional kita bekerja secara tidak adil; kita memiliki arsip yang sangat rapi dan detail untuk setiap luka kecil yang diberikan orang lain, namun di saat yang sama kita memiliki amnesia selektif terhadap luka raksasa yang kita goreskan pada jiwa orang lain. Dalam konteks film, ini adalah tamparan keras bagi Hayati yang terlalu fokus pada kepedihannya dipaksa menikah oleh adat, sampai ia sempat lupa bahwa keputusannya untuk “menyerah” telah menghancurkan seluruh fondasi hidup Zainuddin selama bertahun-tahun. Hamka ingin menunjukkan bahwa ego manusia sering kali membangun benteng pertahanan diri dengan cara membesar-besarkan kesalahan orang lain demi menutupi kebusukan atau pengkhianatan yang kita lakukan sendiri.
Lebih jauh lagi, kutipan ini relevan sebagai kritik terhadap narsisme penderitaan yang sering kita temui dalam hubungan modern, di mana seseorang merasa berhak menghakimi pasangannya atas kesalahan sepele, sementara ia menutup mata terhadap “pembunuhan karakter” yang ia lakukan secara konsisten melalui pengabaian atau sikap pasif-agresif. Kalimat ini memaksa kita untuk keluar dari zona nyaman sebagai “pihak yang dizalimi” dan mulai berani menjadi jaksa bagi diri sendiri. Ini adalah ajakan untuk memiliki empati dua arah; bahwa rasa sakit yang kita rasakan tidak otomatis menghapus dosa atas rasa sakit yang kita berikan. Pada akhirnya, Hamka mengingatkan bahwa keadilan sejati dalam sebuah hubungan hanya bisa tegak jika kita berhenti menggunakan luka kita sebagai tameng untuk melegitimasi kekejaman kita kepada orang lain.
Sebenarnya, inti dari petuah Hamka itu adalah pengingat agar kita tidak menjadi “akumulator luka” yang punya daya ingat setajam Google Drive untuk kesalahan orang lain, tapi mendadak mengalami gangguan sinyal kalau harus mengingat dosa sendiri. Menjadi korban itu memang terasa candu karena kita merasa berada di posisi moral yang lebih tinggi, padahal bisa jadi sementara kita sibuk menangisi duri kecil di jempol kita, kita tidak sadar sedang menghantam kepala orang lain dengan palu godam ekspektasi. Zainuddin mengajarkan kita bahwa daripada terus-menerus menjadi kurator museum penderitaan, lebih baik kita menjadi arsitek masa depan yang sibuk membangun menara kesuksesan.
Jadi, motivasi elegan bin lucunya begini: berhentilah mengoleksi “sertifikat dizalimi” seolah-olah itu bisa ditukar dengan paket umrah gratis. Kalau kamu merasa dikhianati atau tidak dihargai, jangan balas dengan cara menjadi pengemis simpati di media sosial sampai semua orang bosan melihat fotomu yang mendung terus. Balaslah dengan cara menjadi pribadi yang sangat mahal dan berkualitas sampai mantanmu kalau mau melihat kabarmu saja harus merasa sungkan karena merasa levelnya sudah tertinggal jauh di belakang.
