Screenshot_20260327_030811
​"Kita tidak lagi mengendalikan teknologi, melainkan menjadi objek yang terus-menerus memberi makan mesin pertumbuhan modal global yang tidak pernah tidur." - AIN
Ingin memasang iklan di Linifakta? Klik banner berikut untuk informasi lebih lanjut.

​Di balik janggut lebat dan tumpukan naskah abad ke-19, Karl Marx sebenarnya sedang membicarakan kita. Kita adalah masyarakat modern yang terjebak dalam ritme layar dan kepungan notifikasi. Jika kita menanggalkan sejenak label politik yang sering menyertainya, esensi pemikiran Marx hari ini terasa seperti diagnosa medis terhadap rasa lelah kolektif yang kita alami. Fenomena burnout atau kelelahan mental masif yang melanda banyak orang saat ini bukanlah sekadar masalah kurangnya self-care atau manajemen waktu yang buruk, melainkan manifestasi dari apa yang Marx sebut sebagai alienasi yang telah berevolusi menjadi versi digital. Dahulu, seorang buruh merasa asing karena ia hanya menjadi sekrup kecil dalam mesin pabrik yang dingin. Kini, keterasingan itu terasa lebih intim karena diri kita sendiri telah diubah menjadi komoditas. Setiap data pribadi, hobi, hingga emosi yang kita unggah di media sosial dikonversi menjadi algoritma yang justru digunakan untuk mendikte apa yang harus kita konsumsi dan bagaimana kita harus merasa.

Relevansi ini semakin tajam ketika kita melihat bagaimana batas antara ruang kerja dan ruang pribadi telah runtuh total. Marx memprediksi bahwa sistem akan selalu mencari cara untuk memaksimalkan nilai lebih, dan di zaman sekarang, itu dilakukan dengan mengubah setiap detik waktu hidup kita menjadi waktu produktif. Melalui ponsel pintar, kantor tidak lagi memiliki dinding fisik. Ia merayap ke meja makan, ke ruang keluarga, hingga ke tempat tidur melalui pesan singkat yang menuntut balasan segera. Kita sering terjebak dalam skema gig economy atau kerja lepas dengan ilusi kebebasan, padahal kenyataannya banyak dari kita yang membiayai sendiri alat produksi seperti kendaraan, perangkat komunikasi, hingga kuota internet, sementara nilai tambah terbesarnya tetap mengalir ke pusat akumulasi modal global. Inilah bentuk fetisisme komoditas yang paling mutakhir, di mana kita memuja kemudahan aplikasi seolah-olah itu adalah keajaiban teknologi yang netral, tanpa menyadari adanya relasi kuasa yang timpang di balik layar sentuh tersebut.

Ketimpangan ini pada akhirnya bukan hanya soal perbedaan saldo bank, melainkan ketimpangan kontrol atas hidup kita sendiri. Marx mengingatkan bahwa sistem yang hanya mengejar angka pertumbuhan tanpa henti pada akhirnya akan menghadapi krisis eksistensial, yang kini mulai terlihat jelas pada krisis kesehatan mental yang merata. Membaca Marx di tengah riuhnya dunia digital bukan berarti kita sedang merencanakan gerakan di jalanan, melainkan melakukan revolusi kesadaran. Ini adalah sebuah ajakan untuk menyadari bahwa manusia jauh lebih berharga daripada sekadar statistik pengguna atau target iklan. Hidup kita seharusnya memiliki tujuan yang jauh lebih bermakna daripada sekadar menjadi bahan bakar bagi pertumbuhan angka ekonomi yang tidak terbatas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *